Hallo, Selamat Datang!

HMTL UII

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia Salam Lestari

Thursday, November 19, 2020

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kondisi Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Penyebab Stunting pada Anak di Kota Bontang dan Samarinda, Kalimantan Timur

 


                                  Oleh : Rifa Nur Azizah (Teknik Lingkungan 2018)

Masalah air bersih dan sanitasi masih menjadi masalah serius di Indonesia. Meski saat ini pembangunan infrastruktur dan gaya hidup di Indonesia terus meningkat, namun nyatanya masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan akses air bersih, diantaranya perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masih ditemukan di beberapa permukiman kumuh di Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, Indonesia berada pada peringkat ketiga negara dengan sanitasi terparah atau kurang memadai, tepat di dibawah India dan China. Di Indonesia, masih ada sekitar 9% penduduk yang melakukan perilaku buang air besar sembarangan. Pemerintah juga sebenarnya mempunyai target ke depan, yaitu rumah tangga yang menempati kawasan pemukiman harus mendapatkan akses sanitasi yang layak dan aman hingga 90% termasuk 20% dengan akses aman dan terpenuhinya target 0% yang artinya tidak ada lagi perilaku buang air besar sembarangan yang muncul di daerah tersebut serta membuka dan memenuhi akses 34,75% air minum layak termasuk 30,35% akses perpipaan.

Perilaku buang air besar sembarangan ini juga terjadi di salah satu provinsi di Indonesia yaitu Kalimantan Timur. Walaupun Kalimantan Timur memiliki berbagai sumber daya alam seperti batu bara, minyak bumi, gas, kayu jati, kelapa sawit, dan lainnya yang terus dimanfaatkan bahkan menjadi sumber ekspor dan devisa Indonesia, namun dibalik kekayaan alamnya tidak semua orang hidup dengan cara yang baik. Masih banyak masyarakat yang tidak mendapatkan air dengan kualitas yang baik dan sistem sanitasi yang kurang memadai. Misalnya di Kota Samarinda yang merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Masih ada sekitar 3% lebih atau sekitar 24 ribu orang yang memanfaatkan sungai untuk aktivitas mandi, cuci, dan kakus. Pasalnya, masih banyak masyarakat Samarinda yang tinggal di sepanjang sungai dan tidak menyadari pentingnya sanitasi. Sedangkan di Kota Bontang, masih terdapat 9 kelurahan yang belum mencapai 100% ketersediaan akses sanitasi. Seperti, di Kelurahan Selambai dan Bontang Kuala data statistiknya menunjukkan berada di tingkat tertinggi pada perilaku buang air besar sembarangan khususnya di Kelurahan Selambai. Hal ini dikarenakan Kelurahan Selambai merupakan daerah kumuh dan Kelurahan Bontang Kuala memiliki masalah kerusakan Instalasi Pengolahan Air Limbah sehingga masyarakat disana kembali melakukan buang air besar sembarangan.

Padahal seperti yang kita ketahui, kebiasaan buang air besar sembarangan ini akan sangat berbahaya bagi masyarakat sekitar. Air sungai digunakan untuk mandi, cuci, dan kakus oleh masyarakat. Air sungai yang telah tercemar bakteri Escherichia Coli (E. Coli) akibat buang air besar sembarangan juga dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Tidak tertutup kemungkinan bakteri E. Coli sebagai agen akan masuk ke dalam tubuh manusia sebagai konsumen yang merupakan inangnya. Hal ini tentunya dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya diare, kolera, bahkan stunting. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kaltim, sekitar 30,6% dari total balita mengalami stunting dan hal ini terus meningkat setiap tahunnya (2017). Kota Bontang merupakan kota di Kalimantan Timur yang memiliki kasus stunting tertinggi yaitu 32,2%. pada tahun 2017 yang terus meningkat setiap tahunnya yaitu 16,1% (2014), 21,5% (2015), 20,4% (2016), 32,4% (2017). Sedangkan di Kota Samarinda sebesar 28,8% pada tahun 2017. berdasarkan data terbaru di tahun 2019 kasus stunting tertinggi terdapat di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Hal ini tentu saja perlu mendapatkan perhatian yang lebih dikarenakan kasus stunting dapat mempengaruhi kualitas dari sumber daya manusia yang ada dan kualitas hidup anak Indonesia tentunya. Dimulai dalam hal kecerdasan, kemampuan bersaing di sekolah, imunitas, dan produktivitas pertumbuhan seorang anak kedepannya. Bahkan akan semakin menghambat pertumbuhan ekonomi, menambah tingkat kemiskinan, dan semakin menimbulkan kesenjangan di dalam masyarakat.


0 komen:

Gedung FTSP UII, Jln. Kaliurang KM 14, Sleman, Yogyakarta
085743124922 (INFOKOM)
082220965081 (HUBLU)

SEND US A MESSAGE