Hallo, Selamat Datang!

HMTL UII

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia Salam Lestari

Hello

KamiHMTL UII

Selamat datang di website Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Website ini dibuat sebagai media informasi dan komunikasi untuk mahasiswa serta masyarakat. Disini anda dapat mengenal lebih dekat tentang profil, program kerja, dan kegiatan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Pengurus

  • Dwita Subhi

    Ketua Umum HMTL UII

  • Multazam Kamaludin

    Wakil Ketua Internal

  • Sitinur Hajidah Mardhiyah

    Sekertaris I

  • Rachmad Fajrin Al Khoiri

    Wakil Ketua Eksternal

  • Annisa Gebriela

    Bendahara I

  • Noor Shofia Rahma

    Sekertaris II

  • Rizka Alya Faizaty

    Bendahara II

departemen

  • Dalam Negeri

    More

  • Hubungan Luar

    More

  • Informasi & Komunikasi

    More

  • Kewirausahaan

    More

  • Minat Bakat

    More

  • Pengabdian Masyarakat

    More

  • Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa

    More

Event April 2017

MINGGU
SENIN
SELASA
RABU
KAMIS
JUMAT
SABTU

Latest Post

Lingkungan dalam islam

Ilustrasi : Kepedulian muslim terhadap lingkungan
sumber : http://www.khaleafa.com 

        Munculnya berbagai permasalahan lingkungan yang melanda saat ini tentu menjadi problematika yang amat besar bagi seluruh penghuni bumi ini. Selain mengakibatkan kematian dan menyebarnya wabah penyakit, rusaknya lingkungan juga akan berakibat pada hilangnya potensi akan kelestarian masa depan bagi mahluk hidup, terlebih bagi manusia itu sendiri. Masyarakat yang cenderung tidak peduli  dan kurang memperhatikan konsekuensi dari kerusakan  lingkungan kehidupannya. Mereka menganggap bila hancurnya alam ini hanya akan berakibat pada flora dan fauna saja. Anggapan itu menyebar luas ke seluruh masyarakat di dunia ini, terlebih dengan adanya fakta yang menunjukkan bila kerusakan alam hanya akan memiliki akibat kepada manusia setelah berpuluh-puluh tahun kemudian. Dengan pemikiran seperti itu, mereka pun lengah dari upaya menjaga lingkungan, dan menganggap tugas menjaga lingkungan hanya patut dilakukan oleh mereka yang memiliki wewenang dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan saja.

      Padahal, kerusakan lingkungan dapat diperkirakan kelak tidak hanya memengaruhi kelangsungan flora dan fauna saja, namun juga dapat merombak kehidupan masyarakat manusia seutuhnya. Sulitnya pangan yang bersumberkan dari pertanian dan perkebunan akibat tercemarnya air, tentu tidak dapat memungkiri efek yang akan merubah peta ekonomi dan politik di masa kedepannya. Nilai sosial dan budaya pun sudah pasti akan berubah. Bila dapat dipermisalkan, sumber air bersih yang sulit didapat akan mengakibatkan pertengkaran antar manusia yang memperebutkan air bersih itu demi kelangsungan hidup mereka masing-masing, sehingga permusuhan dan kejahatan di masyarakat luas pun tidak bisa disangka akan terjadi. Adanya kenyataan yang menunjukkan bahwa amat banyaknya populasi manusia di zaman kini, tidak menjadikan hal tersebut sebagai hal omongan kosong belaka. Bila asap dan kotoran yang beterbangan di udara tidak ditangkal, dapat dengan mudah dikatakan penyakit pernafasan pun akan merajalela. Kebutuhan akan obat dan alat kesehatan nafas pun akan semakin dicari, sehingga mungkin saja negara harus mengimpor keperluan itu dari negara lain, demi memenuhi kebutuhan itu. Bahkan, tidak bisa dipungkiri, berbagai penyakit akibat rusaknya lingkungan dapat pula mengundang peneliti-peneliti asing untuk mencari solusi bagi permasalahan itu, yang tak jarang solusi itu berbuah jutaan dana yang harus dikerahkan. Belum pula diperhitungkan, bila mungkin saja ada peneliti yang rela meneliti hanya demi meraup keuntungan pribadi, dengan menyebar luaskan penyakit yang ditelitinya itu ke daerah lain, dan menjual obat dari penyakit yang disebarnya sendiri.


         Atas berbagai akibat tersebut, tentulah perlu dirumuskan suatu pemikiran baru yang dapat menunjang setiap lapisan masyarakat untuk bersinergi dalam upaya pelestarian lingkungan. Agama Islam dapat mengambil perannya disini. Kaum agamawan dan cendekiawan muslim mampu memberikan andil besar dalam perkara ini, mengingat perkara umat Islam dan maju-mundurnya umat ditentukan oleh kehadiran mereka.




Lingkungan dalam islam
sumber : http://sustainablesmartbusiness.com

        Bila peradaban lain dapat membangun sistem drainase dan perpipaan dengan unggul atas nama kemanusiaan dan demi mencari upah kerja bagi keluarga, maka umat Islam dapat memberikan corak baru dalam pelestarian lingkungan dengan mengatasnamakan aksi pelestariannya itu demi agamanya yang suci dan untuk meraih ridho dari Tuhannya. Umat Islam tentu sangat memahami pentingnya niat dan pengaruhnya bagi kelangsungan hidupnya sendiri. Penyandaran diri pada harta dan upah kemanusiaan hanya akan berbuah dalam tempo waktu yang sedikit. Sedangkan niatan yang suci dikarenakan Tuhan akan memiliki pengaruh yang lebih lama dan lebih besar daripada niatan karena hal keduniaan. Sebagai pendukung, dalil yang menyebutkan bila manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya tentu dapat memperkuat niatan ini.


       Ulama’ Islam pun harus menggali lebih dalam dari ajaran agamanya tentang pelestarian lingkungan, dan menentukan cara praktis untuk menerapkannya. Terkutatnya para pemikir Islam dalam menerapkan agama Islam di bidang sosial dan budaya telah melalaikannya dari bidang lingkungan, sehingga perhatian umat Islam amat kurang terhadap lingkungan. Maka, patutlah pemikir Islam dan kaum agamawan Islam mulai melebarkan sayap perhatian agamanya, dengan merangkul perkara lingkungan bagi ajaran agamanya. Supaya hal tersebut terjadi, sosialisasi dan pemahaman akan lingkungan dan berbagai sistem lingkungan perlu disampaikan kepada agamawan Islam, dengan tujuan agar kaum agamawan Islam mampu memberi keputusan yang tepat dan spesifik dalam urusan yang berhubungan dengan lingkungan.


      Bila pelebaran itu lantas dinilai sebagai bid’ah oleh sebagian agamawan yang melihatnya secara sepintas, perlulah agamawan itu ketahui tentang risiko dari rusaknya lingkungan yang barangkali terjadi bila perkara itu tidak mendapat perhatian serius dari umat Islam. Amat banyak sekali orang yang menggambarkan umat Islam sebagai umat yang kurang menghargai kebersihan, tidak sehat, lalai, dan kurang terdidik. Anggapan yang menyudutkan umat Islam seperti itu, dan tentunya juga akan menyingkirkan agama Islam di kemudian waktu, perlu ditepis, dan sekiranya perhatian yang lebih dari agama Islam terhadap lingkungan dapat menghilangkan penyudutan tersebut.


     Tentu sudah sangat jelas bahwa betapa banyak dalil dan argumen yang memposisikan agama Islam sebagai agama yang peduli lingkungan. Namun, pada praktiknya, amat sedikit sekali bukti yang menunjang kepedulian agama Islam terhadap lingkungan. Menelisik sejarah, banyak sekali pertikaian dan permusuhan akibat konflik antara peradaban Islam dan peradaban barat. Dengan adanya konflik tersebut, sebagian umat Islam bersikap curiga dan kurang memercayai segala sesuatu yang datang dari barat. Ilmu pengetahuan, pemikiran, dan budaya dari barat juga dipandang sebelah mata oleh kalangan muslim. Tak terkecuali, sikap curiga itu berakibat pula dalam kurangnya penyerapan informasi dan ilmu pengetahuan dari barat yang berguna bagi umat Islam sendiri, yang salah satunya berupa teknologi dan ilmu tentang lingkungan. Kurangnya perhatian akan ilmu dan teknologi barat itu berimbas pula pada kelangsungan hidup masyarakat muslim, yang pula menyebabkan sistem kesehatan dan kebersihan, serta pendidikan turut tertinggal daripada peradaban lain yang menerima perkembangan dari peradaban barat.


       Luasnya penyebaran agama Islam dan banyaknya penganut Islam di berbagai belahan bumi ini tentu menjadikan umat Islam sebagai pihak yang bertanggungjawab besar atas lingkungan ini. Maka, patutlah perkara lingkungan ini diperhatikan dengan baik oleh umat Islam, demi keberlangsungan bumi yang sehat dan nyaman.


Penulis : Ainun Mardiah (TL 16)

SARJANA DIATAS SARJANA

Ilustrasi : Wisuda UII tahun 2010-2011

Perkuliahan merupakan sarana pendidikan tingkat atas guna mencetak intelektual muda yang kreatif, innovatif, dan pembaharu. Model pendidikan dengan ciri khas masing-masing universitas dalam mengemas sistem menjadi daya tarik tersendiri . Budaya bersaing secara sehat baik dalam hardskill maupun pengembangan softskill menjadi hiasan keseharian untuk mewujudkan tujuan tertentu. 

Perjalanan ini secara fakta dilakukan oleh para mahasiswa pencari ilmu guna mematangkan pemikirannya. Lebih kurang selama empat tahun bahkan lebih para pencari ilmu tersebut berkutat dengan kegiatan sehari-hari yaitu bermesraan bersama teori, bercengkrama dengan analisis, dan berta’aruf pada disiplin ilmunya di dunia nyata. Kebersamaan itulah yang membuat para aktor pemimpin bangsa berproses dan secara husnuzon pasti mereka menginginkan amanah oleh ilmunya dan berguna bagi bangsanya. Setidaknya para punggawa muda itu tahu bahwa ilmu berasal dari Sang Ilahi diturunkan melalui sekelompok masyarakat dan di implementasikan kembali oleh kepentingan masyarakat. Hal inilah yang perlu dipahami agar mindset kuliah hanya mencari tuangan tinta rektor di sehelai kertas dan acc dari dosen pembimbing untuk bisa dibawanya memakai baju serba hitam dan topi segilima tidak menjadi kejaran semata. Bukan hanya sekedar penambahan gelar di belakang nama asli akan tetapi sudah seharusnya mengerti tentang amanah yag akan dijalani.

Beragam cara dilakukan setelah calon intelektualis muda di baiat menjadi sarjana atau sebenar-benarnya intelektualis. Sebagian dari mereka ada yang mempunyai angan ingin bekerja di suatu perusahaan nan megah, menjadi bagian dari negara, atau berwirausaha. Hal demikian sangatlah wajar dikarenakan setiap orang memiliki mimpi masing-masing. Titik berat yang perlu diingat adalah selalu amanah terhadap ilmu yang didapat dan tahu apakah itu berdampak buruk atau baik. Tidak hanya sekedar mengais rejeki akan tetapi tanggung jawab keilmuan tertanam di dalam diri. 

Sudah seharusnya kampus dan lembaga mahasiswa menerapkan kurikulum pendidikan untuk menajamkan nilai integritas dan suara hati. Jangan hanya berfikir praktis tanpa merumuskan tujuan sistesmatis, mungkin itulah penyebab lahirnya intelektual apatis. Konsep- konsep seorang berpendidikan yang berani, mumpuni, dan mengabdi untuk kebenaran yang hakiki perlu ditingkatkan, guna membangun generasi bermental baja dan tidak korupsi. Produk “PKB” (Pinter, Kober, Bener) dalam istilah Jawa mempunyai makna tajam dimana seorang intelektualis harus pintar dalam segi apapun, amanah untuk mendedikasikan ilmunya, dan benar dalam bertindak. 

Konsepsi selanjutnya kita sebagai generasi penguat NKRI sudah semestinya sebagai agen “PPP” percontohan, pendidikan, dan pengawasan di dalam elemen apapun. Berdaulat sebagai role model di tengah-tengah masyarakat atau di lingkungan pekerjaan untuk tujuan kebenaran. Maka dari itu, perlu semuanya mawas diri, apa yang sudah kita berikan kepada sekitar kita? Dan apa apa langkah selanjutnya untuk menjadi aparatur jihad negara untuk menjadikan NKRI bagai harimau dan singa yang tajam taringnya?. Mari kita lakukan bersama sesuai dengan konteks keahlian dan kemahiran masing-masing.

Penulis : Maulana Arif Rahman Hakim (TL 12)

Kemandirian Pengelolaan Sampah harus diterapkan untuk Indonesia Bebas Sampah 2020

Kader lingkungan dan pengelola bank sampah Bintang Mangrove Gununganyar, Surabaya, menunjukkan sampah plastik yang terkumpul. Foto: Petrus Riski

Siti Nurbaya menyebutkan, volume sampah di Indonesia mencapai 65 juta ton setahun, yang komposisinya didominasi sampah organik 60 persen, dan sampah plastik 14 persen yang terus meningkat. Sumber utama sampah masih disumbang rumah tangga, pasar tradisional, dan perkantoran. “Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah. Indonesia sedang menjadikan pariwisata sebagai salah satu program prioritas, 10 destinasi wisata mayoritas meliputi pantai dan laut.”

Siti Nurbaya mengatakan, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah sesuai mandat UU 18 Tahun 2008, namun secara nasional perlu mendapat dukungan dan upaya nasional untuk menanganinya. Termasuk, uji coba pengurangan kantong belanja plastik berbayar di supermarket dan perbelanjaan moderen pada 2016.

“Saat ini sedang finalisasi regulasi pengurangan kantong belanja plastik, dan pengurangan sampah kemasan yang akan diterapkan di pusat perbelanjaan moderen dan pasar rakyat,” tuturnya.
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Surabaya, 28 Februari 2017 itu, diawali bersih sampah di pantai Kenjeran, melibatkan 16.000 orang,  dengan jumlah sampah terkumpul sekitar 10 ton.
Tidak hanya di Surabaya, kegiatan bersih sampah selama Februari 2017, juga dilakukan di 226 Kabupaten dan Kota di 34 Provinsi seluruh Indonesia. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilanjutkan di daerah-daerah, sebagai upaya mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

Pengelolaan mandiri

Kota Surabaya meraih penghargaan tertinggi bidang kebersihan 2016 dengan menyabet piala Adipura Paripurna, untuk kategori Kota Metropolitan. Adipura ini yang ke tujuh diterima  berturut. Pada 2015, Surabaya mendapatkan penghargaan Adipura Kencana, karena dinilai unggul dan mampu menciptakan inovasi, terutama dalam hal pemanfaatan tempat pembuangan akhir sebagai sumber energi (waste to energy).

Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya mengatakan, Kota Surabaya telah melakukan program pengurangan sampah mulai dari sumbernya yaitu rumah tangga, hotel, kampus, sekolah dan pasar. Adopsi 3R, yaitu reducereuse, dan recycleSetiap hari, Surabaya menghasilkan sampah hingga 1.500 ton, yang sebagian besar berakhir di TPA Sampah Benowo. Upaya pengurangan volume sampah dimulai dari rumah tangga yang  diolah menjadi pupuk kompos, kerajinan tangan, hingga bernilai ekonomi. “Gerakan mengolah sampah mandiri sudah dijalankan di Surabaya. Program ini melibatkan ibu rumah tangga dan kader lingkungan untuk memilah dan mendaur ulang sampah sesuai peruntukannya,” ujar Risma.


Cara ini, diakui Risma mampu mengurangi volume sampah hingga 300 ton per hari. Pengurangan volume sampah juga dilakukan di pasar-pasar tradisional. Sampah organik ditempatkan tersendiri, yang diolah menjadi pupuk organik atau kompos. Sedangkan sampah anorganik dimanfaatkan kembali atau dijual kepada pengepul. “Beberapa tahun ini, kami sudah menurunkan sampah yang masuk ke TPA Benowo, 10 hingga 20 persen.”

Walikota Surabaya Tri Rismaharini bersama pelajar membersihkan sungai dari sampah plastik. Foto: Petrus Riski

Pengelolaan sampah mandiri juga dilakukan melalui bank-bank sampah, yang tersebar di hampir seluruh kecamatan di Surabaya. Warga yang membawa sampah plastik, kertas atau yang bisa dijual disisihkan, dihargai oleh bank sampah. Bahkan, ada yang menggunakan sampah untuk membayar listrik PLN melalui bank sampah.

Surabaya juga memiliki rumah kompos yang mengubah sampah organik menjadi pupuk untuk merawat taman dan hutan kota. Tempat pembuangan sampah terpadu di Jambangan, mampu menghasilkan 20 ton kompos per hari. “Bahkan dua rumah kompos di Wonorejo dan Bratang, sudah menghasilkan listrik dari sampah dengan proses gasifikasi, masing-masing 8.000 dan 6.000 Watt yang dipakai untuk penerangan taman dan jalan sekitar,” ujar Risma.

Pengolahan sampah menjadi listrik di TPA Benowo menurut Risma, telah mampu menjual listrik ke PLN hingga 2 mega watt. Bahkan, akan dilanjutkan hingga awal 2019, sebesar 11 mega watt per hari. Untuk mencegah polusi, Pemerintah Kota Surabaya bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyiapkan green belt di sekitar TPA. Fungsinya, sebagai penyaring polusi dan bau kurang sedap. “Kami sudah tidak lagi punya masalah dengan TPA Benowo, akan ada green belt seluas 37 hektare sebagai hutan kota yang melindungi permukiman sekitar,” ungkap Walikota Surabaya ini.


Lima aspek
Koordinator Komunitas Nol Sampah, Hermawan Some mengatakan, ada lima aspek pengelolaan sampah yang harus dilakukan, yaitu peraturan, kelembagaan, partisipasi masyarakat, pembiayaan, dan teknologi. Aspek pembiayaan, sering menjadi kendala sebuah kota mengatasi masalah sampah, karena  APBD di banyak daerah tidak signifikan. Padahal penanganan dan pengelolaan sampah membutuhkan biaya besar, karena diperlukan peralatan dan teknologi yang tidak murah. “Yang tidak kalah penting adalah partisipasi masyarakat agar beban pemerintah berkurang,” tuturnya baru-baru ini.

Indonesia telah memiliki Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah juga Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 yang telah diundangkan 15 Oktober 2012. “Daerah harus mulai bergerak dengan membuat peraturan daerah yang fokus pada penanganan sampah.”
Selain pemerintah dan masyarakat, produsen atau perusahaan penghasil produk kemasan, punya tanggung jawab juga yaitu extended producer responsibility (EPR), menarik kembali kemasannya atau mendaur ulang. “Korea Selatan, sebelum EPR dijalankan, hanya bisa mengolah sampah 27 persen. Setelah kewajiban EPR digulirkan mencapai 81 persen. Kita berharap pemerintah serius menggarapnya dan Surabaya bisa mencapai targetnya sebagai kota bebas sampah di 2020 nanti,” jelasnya.



Gedung FTSP UII, Jln. Kaliurang KM 14, Sleman, Yogyakarta
082136597777 (INFOKOM)
081313057737 (HUBLU)

SEND US A MESSAGE