Hallo, Selamat Datang!

HMTL UII

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia Salam Lestari

Hello

KamiHMTL UII

Selamat datang di website Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Website ini dibuat sebagai media informasi dan komunikasi untuk mahasiswa serta masyarakat. Disini anda dapat mengenal lebih dekat tentang profil, program kerja, dan kegiatan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Pengurus Inti

  • Brilliant Bidjaksono

    Ketua Umum HMTL UII

  • M. Fikri Tulus

    Wakil Ketua Internal

  • Noor Shofia Rahma

    Sekertaris I

  • Akbar H. Prayitno

    Wakil Ketua Eksternal

  • Tri Suwarni

    Bendahara I

  • Dewi Anjani

    Sekertaris II

  • Annisa Gebriella

    Bendahara II

departemen

  • Dalam Negeri

    More

  • Hubungan Luar

    More

  • Informasi & Komunikasi

    More

  • Kewirausahaan

    More

  • Minat Bakat

    More

  • Pengabdian Masyarakat

    More

  • Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa

    More

MATRIKS HMTL 2017-2018

Latest Post

FAKTA MENGENAI SAMPAH PLASTIK INI AKAN MEMBUATMU TERKEJUT

Penggunaan plastik booming sejak abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1950an. Saat itu, semua benda terbuat dari bahan non-plastik. Misalnya, sisir dan bola billiard yang dibuat dari gading gajah. Kemudian, muncul lah bahan polimer sintesis untuk menggantikan bahan dasar pembuatan barang non-plastik, yang lebih efisien dan murah.

World Economic Forum pada 2016 menyatakan ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra planet ini. Tiap tahun, 8 juta ton plastik mengalir ke laut. Padahal plastik bisa berumur ratusan tahun di lautan dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi. Plastik bakal terakumulasi terus dan terus di laut.

Photo by : wochit youtube/Mongabay Indonesia
Indonesia penghasil 2,13 juta ton sampah plastik tiap tahun
Ini bukan sembarang data! Guru Besar pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Enri Damanhuri ungkap ada 44 persen alias 2,13 juta ton sampah plastik. Dan baru 36 persen yang bisa diambil dan dikumpulkan oleh Dinas Kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup dan dibuang ke TPA.

Sampah plastik Indonesia bernilai Rp 2,2 triliun
Waduh, nilai ekonomi sampah plastik Indonesia sangat luar biasa yaitu mencapai Rp 2,2 triliun. Dalam hitungannya, sampah plastik seperti botol minuman dan lainnya dijual para pemulung atau pengepul pertama dengan harga Rp 600 per kilogram.

Photo by : Christopel Paino/Mongabay Indonesia
Lebih banyak sampah plastik daripada ikan
Menurut staf ahli Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Aryo Hanggono, pemerintah kurang komitmen mengurangi sampah plastik di lautan. Apalagi sejumlah kajian menunjukkan jika dalam tahun 2025, jumlah sampah tersebut akan melampau stok ikan yang ada. Bahkan pada 2025, rasio plastik dibanding ikan di samudra diperkirakan menjadi 1:3. Plastik bakal terus bertambah menjadi 250 juta ton, sedangkan jumlah ikan terus menurun akibat penangkapan yang makin gencar.

Sumber  : Opini.id
Editor    : M. Akbar Ardhiansyah

Islam Harmonisasi Alam


Berbicara mengenai harmonisasi atau keselarasan antara islam dengan alam, maka tak dapat dipungkiri bahwa Allah SWT telah menetapkan landasan pergerakan atau tugas pokok yang sudah disepakati melalui perjanjian yang tertulis di dalam Al-Qur'an. Antara lain Habluminallah, Habluminannas, dan Hablumninal'alam. Memupuk kesungguhan guna menumbuhsuburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah SWT, manusia, dan alam semesta Ketiga landasan tersebut saling berkaitan sehingga tidak dapat dipisahkan.


Mengapa terdapat hierarki demikian? Mengapa Hablumninallah berada pada kedudukan tertinggi, padahal ketika manusia lahir, hal yang pertama dilakukan adalah menghirup oksigen. Dapat diketahui bahwa oksigen adalah berasal dari alam, yang masuk ke dalam Habluminal'alam. Allah SWT memutuskan segala ketentuannya selalu menyertakan Asbabunnuzulnya. Ketiga landasan pergerakan tersebut bersifat hierarki, yang artinya terdapat urutan tingkatan. Sehingga manusia harus melaksanakan ketiganya secara berkaitan. Ketika salah satu landasan tidak terlaksana, maka landasan selanjutnya tetap harus dilaksanakan namun tidak akan berjalan dengan maksimal.
Dalam pelaksanaannya dengan Habluminallah, mayoritas orang akan berpikir cukup dengan cara melaksanakan sholat dan dzikir, meninggalkan hiruk pikuk dunia, dan segala permasalahanya, namun jika ditinjau dari segi maksud hal tersebut kurang tepat. Maka hendaknya tidak melupakan bahwa di dalam rahmat berupa harta, ilmu maupun karunia apapun yang telah diberikan terdapat hak orang lain dan Allah SWT meminta pertanggungjawaban atas hal itu.
Dengan demikian terdapat korelasi di dalam pelaksanaan Habluminannas. Untuk terciptanya fungsi tersebut yang terintegrasi ke dalam diri pribadi muslim yang beriman, tidak akan berjalan dngan maksimal jika dilaksanakan sendirian. Sangat diperlukan kerjasama, kepedulian, dan rasa saling memiliki. Karena dalam hidup kita membutuhkan lahan yang akan dijadikan sebagai ladang amal, dan lahan tersebut terdapat pada orang atau individu yang lain.
Islam harmonisasi alam. Hal ini dapat diwujudkan melalui pelaksanaan Habluminal'alam, yaitu hubungan yang baik antara manusia dengan alam, sebagaimana diterangkan di dalam Al-Qur'an. Pada hahekatnnya Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah berarti pemimpin, pemimpin dalam segala hal. Pemimpin antar sesama manusia, kepada alam semesta, dan yang paling penting adalah memimpin kepada diri sendiri.
Hablumninal'alam adalah landasan pergerakan dalam mencari keselamatan dan ketentraman hidup di dunia. Menjaga agar alam tetap bersahabat dan melestarikan alam agar dapat dinikmati oleh generasi penerus. Manusia diciptakan dari saripati tanah. Dalam ilustrasi ini, tanah berasal dari alam. Adapun dalam ilmu lingkungan dipelajari macam-macam pencemaran, antara lain air pollution (pencemaran udara), water pollution (pencemaran air), soil pollution (pencemaran tanah), dan lain sebagainya. Dapat disimpulkan, jika banyak terjadi pencemaran di alam  terutama pencemaran tanah, selanjutnya bagaimana cara membuat generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan kita. Tentunya jika dibiarkan semakin lama akan berakibat fatal dan berdampak pada kesengsaraan diri manusia sendiri.
Dalam Qur'an Surat Ar rum 41 menjelaskan bahwa:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".
Allah SWT telah memerintahkan kepada manusia agar melestarikan alam dan lingkungannya. Allah SWT menciptakan alam semesta dan segala isinya adalah untuk dimanfaatkan oleh manusia demi kesejahteraan hidup dan kemakmurannya. Manusia diperbolehkan menggali kekayaan alam, mengolahnya, dan memanfaatkannya sebagai bekal beribadah kepada Allah SWT. Namun kenyataannya karena manusia memiliki sifat tamak, rakus, dan cenderung tidak pernah merasa puas.
Dari ayat di atas, Allah SWT telah memperingatkan bahwa Allah SWT percaya sepenuhnya dengan manusia. Allah SWT yakin bahwa manusia akan mampu mengemban amanah yang telah diberikanNya, yakni menjaga alam semesta. Allah SWT menghendaki apapun perbuatan yang dilakukan oleh manusia kepada alam semesta ini, akan berakibat pada diri manusia sendiri. Maka dari itu, hendaknya kita sebagai makhluk Allah SWT yang diberikan amanah untuk menjaga alam semesta memperlakukan dengan sebaik-baiknya. Memanfaatkan potensi alam sesuai dengan porsinya, agar tercipta keharmonisan antara kehidupan sebagai pemeluk agama islam dengan alam.


Penulis : LDF Al Mustanir - Gayuh Ajeng Wandasari


Sampah Plastik Samudera Pasifik Hampir Seluas Indonesia

            The Great Pacific Garbage, atau Kumpulan sampah plastik di Samudera Pasifik kini  telah meluas dengan ukuran yang tidak masuk akal. Kumpulan sampah-sampah plastik yang mengambang di lautan antara Hawaii dan California ini terus membesar hingga berukuran 1,6 juta km2.
            Luas hamparan sampah yang terapung ini hampir seluas daratan Indonesia (1,9 juta km2). Hal ini dilaporkan dalam jurnal Scientific Reports yang dipublikasikan oleh majalah Nature. Dalam studi tersebut disebutkan bahwa sampah di wilayah ini telah mengalami peningkatan sebesar 10 hingga 16 kali lebih banyak dari jumlah yang diduga sebelumnya. Satu hal yang menjadi fakta menyeramkan adalah bahwa sampah di sana tidak mengalami pengurangan. Bayangkan, apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.


            The Great Pacific Garbage ditemukan pertama kali pada tahun 1990-an, dan sampah-sampah tersebut berasal dari negara-negara di Lingkar Pacific (Pacific Rim) yang tersebar di Asia, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan ditambah Lebretan.
            The Great Pacific Garbaga bukan kumpulan plastik yang padat, melainkan terdiri dari 1,8 triliun bagian plastik. Sampah ini diperkirakan memiliki bobot 88 ribu ton, atau setara dengan 500 pesawat jet jumbo. Mikroplastik menyumbang 8 persen dari total jumlah plastik yang mengapung di area luas tersebut. Dari sekitar 1,8 triliun plastik, terdapat komponen yang lebih besar dari mikroplastik. Di antaranya seperti jaring ikan, mainan, hingga dudukan toilet.

Berikut ini adalah sejumlah penemuan dari penelitian tersebut, seperti dikutip dari BBC :
1.     99,9% puing yang terdapat Samudera Pasifik adalah sampah plastik.
2.     Setidaknya 46% di antaranya adalah jaring ikan, dan lebih dari tiga perempatnya adalah benda-benda berukuran kurang dari 5cm. Seperti plastik keras, lembaran plastik, dan CD.
3.     Banyak sampah yang sudah hancur dan menjadi benda-benda kecil. Meski begitu, bentuk awalsampah ini masih bisa diidentifikasi oleh para peneliti, misalnya kontainer, botol, tutup botol, tali pengikat, dan lain-lain.
4.     Dari 50 objek sampel yang diteliti, terdapat tulisan tahun pada benda-benda tersebut. Satu objek dari tahun 1977, tujuh objek berasal dari tahun 1980, 17 objek berasal dari tahun 1990, 24 objek berasal dari tahun 2000, dan satu objek berasal dari 2010.
5.     Hanya benda-benda yang tebal dan dari jenis tertentu yang mengapung di laut, yakni sampahyang terbuat dari polipropilen dan polietilena.
            Untuk meneliti tingkat keparahan polusi di Samudra Pasifik utara, sejumlah peneliti melakukan survei udara. Mereka juga berhasil mengumpulkan 652 jaring yang mengapung di sana. Setiap tahun, jutaan ton plastik berakhir di laut, beberapa hanyut ke dalam sistem pusaran arus laut yang besar yang dikenal sebagai gyres.
            Setelah terjebak dalam sirkulasi atau pusaran arus laut tersebut, plastik akan tercacah dan terurai menjadi mikroplastik yang tak telihat secara kasat mata. Mikroplastik ini akan tertelan oleh satwa laut. Dengan demikian, bisa saja manusia memakan satwa laut yang mengandung mikroplastik tersebut.


Source : National Geographic

Gedung FTSP UII, Jln. Kaliurang KM 14, Sleman, Yogyakarta
085396069188 (INFOKOM)
081313057737 (HUBLU)

SEND US A MESSAGE