Hallo, Selamat Datang!

HMTL UII

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia Salam Lestari

Hello

KamiHMTL UII

Selamat datang di website Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Website ini dibuat sebagai media informasi dan komunikasi untuk mahasiswa serta masyarakat. Disini anda dapat mengenal lebih dekat tentang profil, program kerja, dan kegiatan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Pengurus Inti

  • M. Rifqi Hidayat

    Ketua Umum HMTL UII

  • Ridwan

    Wakil Ketua Internal

  • Dewi Anjani

    Sekertaris I

  • Soultan Simamora

    Wakil Ketua Eksternal

  • Nurul Hardina A Mai

    Bendahara I

  • Anggi Sukma Mawarni

    Sekertaris II

  • Tri Suwarni

    Bendahara II

departemen

  • Dalam Negeri

    More

  • Hubungan Luar

    More

  • Informasi & Komunikasi

    More

  • Kewirausahaan

    More

  • Minat Bakat

    More

  • Pengabdian Masyarakat

    More

  • Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa

    More

MATRIKS HMTL 2017-2018

Latest Post

INDONESIA DARURAT ASAP


6 provinsi di Indonesia yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan berstatus siaga darurat kebakaran hutan. Sementara itu, provinsi dengan lahan terbakar paling banyak terjadi di Riau dan Kalimantan Tengah.
Kebakaran hutan dan lahan makin parah. Dalam sepekan, sekitar 110 hektare lahan gambut terbakar di Kelurahan Petung dan Desa Giripurwa, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Panajam Paser merupakan daerah yang akan menjadi ibu kota baru.
Foto Satelit Kalimantan yang diambil oleh NASA 
"Sampai kemarin, hari ke tujuh, perkiraan luas lahan gambut yang terbakar di Petung dan Desa Giripurwa kurang lebih 110 hektare," kata Kasubbid Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila saat dikonfirmasi merdeka.com, Senin, 16 September 2019.

Kondisi cuaca yang sangat buruk membuat Dinas Pendidikan daerah meliburkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan. Mulai dari PAUD hingga SMA negeri dan swasta diliburkan demi menjaga kondisi kesehatan murid dan guru. 

Dampak dari kebakaran hutan dan lahan munculnya kabut asap pekat. Kabut asap ini tak hanya dirasakan warga Indonesia, melainkan sampai ke negeri tetangga. Negara tetangga yang ikut terkena dampak karhutla adalah Malaysia dan Singapura. Bahkan Negeri Jiran sampai meradang hingga berencana mengirim surat ke Jokowi.
Langit Merah di Muaro Jambi akibat kabut asap
Kabut asap karhutla yang semakin menebal mulai membuat warga mengalami gangguan pernapasan, iritasi mata dan kulit. Menurut data, terdapat 20.000 warga yang terserang ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Puskesmas atau pusat pelayan kesehatan lainnya juga penuh didatangi oleh warga yang terpapar kabut asap, mulai dari orangtua hingga anak-anak. Berikut merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah ISPA.
Langkah Pencegahan ISPA
Bagi masyarakat yang terkena dampak karhutla mungkin cukup sulit untuk menghindari asap pemicu ISPA. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya, yaitu:
Hindari melakukan aktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan asap karhutla;
Jika terpaksa harus melakukan aktivitas di luar rumah, pastikan untuk menggunakan masker yang dilengkapi oleh filter udara, contohnya seperti masker N95;
Hindari berbagi peralatan makan dan minum dengan pengidap ISPA;
Bersihkan dan sterilisasi area yang disentuh orang lain dan seseorang yang diduga mengidap ISPA;
Menutupi mulut dan hidung saat bersin dan batuk;
Konsumsi makan makanan yang sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh;
Rutin minum air putih untuk memenuhi kebutuhan cairan harian;
Rajin mencuci tangan.



Editor : M Akbar Ardhiansyah

CLIMATE CHANGE AT A GLANCE

Menurut United Nations Framework Convention, perubahan iklim menunjuk pada adanya perubahan pada iklim yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan manusia yang mengubah komposisi atmosfer global dan juga terhadap variabilitas iklim alami yang diamati selama periode waktu tertentu. 

Selubung alami GRK di atmosfer menjaga bumi cukup hangat untuk kehidupan – saat ini dalam taraf nyaman sebesar 15°C. Emisi GRK yang disebabkan oleh kegiatan manusia telah mengakibatkan adanya penebalan selubung tersebut, sehingga banyak panas yang terperangkap dan memicu timbulnya pemanasan global. Masalah yang kini dihadapi manusia adalah sejak dimulainya revolusi industri 250 tahun yang lalu, emisi GRK semakin meningkat dan menebalkan selubung GRK di atmosfer dengan laju peningkatan yang signifikan. Bahan bakar fosil adalah sumber emisi GRK terbesar dari aktivitas manusia. 

Sebelas dari dua belas tahun terakhir merupakan tahun-tahun terhangat dalam temperatur permukaan global sejak 1850. Tingkat pemanasan rata-rata selama lima puluh tahun terakhir hampir dua kali lipat dari rata-rata seratus tahun terakhir. 
Sumber : climatecentral.org
Saat ini dilaporkan tengah terjadi kenaikan muka laut dari abad ke-19 hingga abad ke-20, dan kenaikannya pada abad 20 adalah sebesar 0.17 meter. Pengamatan geologi mengindikasikan bahwa kenaikan muka laut pada 2000 tahun sebelumnya jauh lebih sedikit daripada kenaikan muka laut pada abad 20. 

Tutupan salju semakin sedikit di beberapa daerah, terutama pada saat musim semi. Sejak 1900, luasan maksimum daerah yang tertutup salju pada musim dingin/semi telah berkurang sekitar 7% pada Belahan Bumi Utara dan sungai-sungai akan lebih lambat membeku (5.8 hari lebih lambat daripada satu abad yang lalu) dan mencair lebih cepat 6.5 hari. 

Photo by : smithsonianmag.com
Fakta Singkat (Quick Fact) 

• Komunitas-komunitas kurang mampu adalah yang paling rentan terhadap dampak dari perubahan iklim. 
• Tinggi muka laut rata-rata global diproyeksikan naik sebesar 28-58 cm akibat adanya perluasan lautan dan pencairan gletser pada akhir abad 21 (dibandingkan dengan tinggi muka laut pada 1989-1999). 
• 20-30% spesies akan menghadapi resiko kepunahan lebih besar. 
• Akan terjadi gelombang panas yang lebih kuat, pola-pola angin baru, kekeringan yang semakin parah di beberapa daerah dan bertambahnya presipitasi di daerah lainnya. 
• Selama 100 tahun terakhir, temperatur permukaan bumi rata-rata naik sekitar 0.74°C. Jika konsentrasi GRK dominan di atmosfer, karbondioksida, meningkat dua kali lipat dari masa pra-industri, hal ini akan memacu pemanasan rata-rata mencapai 3°C.
• Lapisan es pada Benua Arktik rata-rata telah berkurang sebanyak 2.7% per dekade. 

Apa dampaknya bagi penduduk di benua Asia?

Lebih dari satu milyar orang dapat terpengaruh oleh adanya kekurangan persediaan air, terutama di lembah sungai-sungai besar pada 2050. Pencairan gletser di Himalaya, yang diprediksi akan meningkatkan kejadian banjir dan longsor, akan mempengaruhi sumber daya air pada dua hingga tiga dekade kedepan. Daerah pantai, terutama daerah mega-delta regions yang padat penduduk, akan beresiko terkena banjir akibat kenaikan muka laut, dan juga dari luapan sungai.

Apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi Climate Change?

• Dengan menerapkan kebijakan ketat mengenai perubahan iklim, pemerintah dapat memperlambat dan menurunkan tren emisi dari grk ini, dan juga menstabilkan tingkat kandungan dari grk ini di atmosfer. 
• Menyebarluaskan teknologi efisien dan ramah lingkungan, juga menggunakan energi terbarukan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil
• Menerapkan konsep Green Building pada gedung-gedung seperti efisiensi penerangan dan pendingin ruangan.
• Menyediakan sistem transportas publik dan mempromosikan transportasi tak bermotor juga dapat mengurangi emisi.
• Dengan melakukan penanaman hutan baru, pengurangan GRK secara pasti dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah. 
• Pengurangan emsisi secara langsung dapat dilakukan dengan menggunakan gas yang dihasilkan dari pembuangan sampah, dan juga meningkatkan penerapan dan perencanaan manajemen air sampah pada tempat pembuangan akhir.

Berikut ini merupakan cara yang bisa kita lakukan dalam mendukung energi terbarukan



Sumber  : UNFCCC & Coaction.id
Editor    : M. Akbar Ardhiansyah

FAKTA MENGENAI SAMPAH PLASTIK INI AKAN MEMBUATMU TERKEJUT

Penggunaan plastik booming sejak abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1950an. Saat itu, semua benda terbuat dari bahan non-plastik. Misalnya, sisir dan bola billiard yang dibuat dari gading gajah. Kemudian, muncul lah bahan polimer sintesis untuk menggantikan bahan dasar pembuatan barang non-plastik, yang lebih efisien dan murah.

World Economic Forum pada 2016 menyatakan ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra planet ini. Tiap tahun, 8 juta ton plastik mengalir ke laut. Padahal plastik bisa berumur ratusan tahun di lautan dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi. Plastik bakal terakumulasi terus dan terus di laut.

Photo by : wochit youtube/Mongabay Indonesia
Indonesia penghasil 2,13 juta ton sampah plastik tiap tahun
Ini bukan sembarang data! Guru Besar pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Enri Damanhuri ungkap ada 44 persen alias 2,13 juta ton sampah plastik. Dan baru 36 persen yang bisa diambil dan dikumpulkan oleh Dinas Kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup dan dibuang ke TPA.

Sampah plastik Indonesia bernilai Rp 2,2 triliun
Waduh, nilai ekonomi sampah plastik Indonesia sangat luar biasa yaitu mencapai Rp 2,2 triliun. Dalam hitungannya, sampah plastik seperti botol minuman dan lainnya dijual para pemulung atau pengepul pertama dengan harga Rp 600 per kilogram.

Photo by : Christopel Paino/Mongabay Indonesia
Lebih banyak sampah plastik daripada ikan
Menurut staf ahli Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Aryo Hanggono, pemerintah kurang komitmen mengurangi sampah plastik di lautan. Apalagi sejumlah kajian menunjukkan jika dalam tahun 2025, jumlah sampah tersebut akan melampau stok ikan yang ada. Bahkan pada 2025, rasio plastik dibanding ikan di samudra diperkirakan menjadi 1:3. Plastik bakal terus bertambah menjadi 250 juta ton, sedangkan jumlah ikan terus menurun akibat penangkapan yang makin gencar.

Sumber  : Opini.id
Editor    : M. Akbar Ardhiansyah
Gedung FTSP UII, Jln. Kaliurang KM 14, Sleman, Yogyakarta
085396069188 (INFOKOM)
081313057737 (HUBLU)

SEND US A MESSAGE